Mari Mampir!

Selamat datang di blog saya. Selamat menikmati menu beragam yang akan mengisi dahaga mu akan ilmu dan rasa lapar mu akan cerita tentang hidup. Jangan dulu meninggalkan meja makan ku sebelum kamu kenyang dan siap melangkah lagi. Salam kebajikan.
Breaking News
recent

Di Beranda

Titik-titk peluh telah menguap menjadi garam tak kasat mata, mungkin hingga ukuran partikel terkecil. Kering dan tersapu oleh tiupan angin yang berputar di ruangan penuh oleh hawa kantuk setelah waktu makan siang.

Terkadang, ketika siswa sibuk menuliskan apa yang telah aku jelaskan di depan kelas, sedikit ku curi waktu untuk menatap menembus masa. Melirik celah-celah kosong yang akan menyelipkan masa depan ku setelah ini. Setelah jenuh ku pada sistem; kebijakan sepihak yang telah dirancang sesuka hati oleh tangan-tangan serakah. Apalah daya, tak kuasa hanya seorang buruh rendahan.

Tapi ku temukan senyum dan semngat yang mereka tunjukkan, Tanya yang mereka ajukan, lelah yang mereka acuhkan, serta masa depan yang mereka cita-citakan. Itu sudah bisa memusnahkan jenuh ku akan sistem dan kesejahteraan ku. Aku bangga menjadi bagian dari hidup mereka. Dan sebaliknya, ketika mereka mengeluh karena malas bertanya, tak tahan dengan masalah sepele yang tak perlu, atau senyum kecut karena tak peduli dengan lingkungan sekitarnya; ingin segera ku berlari dan tak menghiraukannya.

Tapi ku bersabar atau tak menghiraukannya, jika perlu. Karena masih banyak hal yang bisa ku diskukan dengan emosi ku.

Terkadang, aku berjalan, melangkahkan kaki agar tak kaku. Tak jenuh dengan diam ku. Sembari memeriksa catatan siswa. Menemukan karakter mereka dengan tulisan yang beragam. Dari asal coret hingga penuh warna dan kreasi anak muda. Kadang aku sedikit tertawa, menggoda mereka, dan bercanda bersama. Agar aku awet muda. Maklum, beberapa tahun ke depan beranjak sepertiga.

Dan aku masih merasa terkekang oleh kuasa yang sama. Dari tahun sebelum aku melepas status mahasiswa, hingga saat nanti ulang tahun ku di hari ke dua puluh tiga. Jenuh. Kesal. Lemah dan tak berdaya. Hanya diam dan tak mampu bersuara. Karena akan teredam banjir di Cianjur kota sebelum Bandung tiba. Hilang tak berbekas. Tak perlu lah diperjuangkan, toh hasilnya sama saja.

Jika mampu, hendak aku berlari menjauh dari rumah sementara. Menuju arah utara. Tetapi tak menuju ujungnya, hanya sampai perbatasan kota sebelum ibukota. Setelah beranda, tempat biasa ku serap sinar matahari pagi selama, mungkin, seperempat jam atau seperlima. Di sana, hujan akan selalu deras. Dan aku akan memandangi aliran lembutnya dari jendela. Seperti di beranda tempat ku menuliskan cerita. Ya, di beranda, di mana inspirasi berada.

Semoga setelah aku menuliskan cerita, tuhan akan mendengar ingin ku untuk mendapatkan pengalaman berharga. Di masa-masa setelah Juli. Aku ingin telah berada di sana. Tak lagi duduk menyepi di ruang kosong dan akan mendengar lebih banyak tawa. Banyak tanya untuk bercerita. Lalu ku temukan bahagia. Tanpa terkekang oleh sistem yang ada. Agar aku kuat menapaki masa. Menuju kebebasan yang pertama…

Insyaallah. Jodohkan lah aku dengan mereka 

No comments:

Silahkan tinggalkan pesan atau komentar yang membangun untuk penulisan/karya yang lebih baik. Terima kasih.

Powered by Blogger.