Mari Mampir!

Selamat datang di blog saya. Selamat menikmati menu beragam yang akan mengisi dahaga mu akan ilmu dan rasa lapar mu akan cerita tentang hidup. Jangan dulu meninggalkan meja makan ku sebelum kamu kenyang dan siap melangkah lagi. Salam kebajikan.
Breaking News
recent

Pada Lorong Pribadi Kita

Sore itu, sedikit gerimis berbaris berjatuhan menempa bumi. Tanah-tanah tidak terlalu basah. Aku masih tegap berdiri menjaga di bibir pintu, menunggu mu kembali dari peraduan di seberang lautan sana. Di sebuah pulau yang jauh di selatan. Di pintu itu tertulis nama mu. Hanya nama mu seorang. Karena lorong berpintu merah itu milik mu. Aku selalu menjaga nya dengan baik. Tak pernah sekali pun ku coba membiarkan orang asing masuk ke dalam nya. Tetapi sejujurnya pernah ada yang mencoba mengetuk nya saat aku hampir tertidur karena kebosanan, tetapi mereka tidak bisa masuk karena gembok-gembok besar dan kuat telah ku benamkan di antara lubang-lubang kunci nya. Beberapa orang lain lagi mencoba membawa ku keluar dari pijakan dimana aku berdiri dan hendak menjauhkan ku. Tetapi tak lantas pergi. Hanya beberapa langkah. Satu atau dua, lalu aku kembali. Karena mereka selalu asing dan tak ku kenali. Tak seperti mu yang selalu dekat dan indah bila aku sapa. Nyaring dan merdu bila aku ajak berdua. Tak sepi dan liar. Aku suka kamu seperti itu.


Lorong itu selalu tampak hitam. Menarik ku untuk diam dan mencari lorong-lorong kecil cahaya. Sulit ku temukan. Hanya jendela kusam. Bahkan air mata dewa pun niscaya tak akan mampu membersihkannya. Hanya waktu, engkau berkata, yang akan melepaskan kotoran-kotoran hitam pekat yang bisa memuluskannya kembali. Hanya waktu, ketika kau tidak juga kembali. Hanya waktu juga selalu tak bisa ku hiraukan lorong hitam ini.


Masih ingat kah kau? Sengaja kau memaku potret kita berdua di ujung lorong tepat membelakangi pintu. Setiap saat kau kembali dari tempat jauh di selatan, kau akan selalu tersenyum melihat betapa bahagia kita di dalam kotak sana.


"Mengingat mu membahagiakan ku." Kau sering berkata kalimat indah itu disaat pelukan mu hangat menenangkan ku.


"Bersama mu membuat ku selalu sempurna." Kau melepaskan pelukan mu dan menggenggam tangan ku. Meninggalkan hanya tautan jari manis di akhir-akhir perpisahan.


"Ingin ku selalu di samping mu, tetapi....." Dengan berat kau kabur kan pandangan mata ku. Kau lepaskan sentuhan terakhir di tahun itu dan pergi jauh ke pulau di selatan.


Aku masih menunggu mu. Menjaga lorong pribadi kita di sini. Pintu bercat merah. Tertulis nama mu dan sengaja tak ada nama ku. Karena aku ada di sini menjaga nya.


Terakhir kemarin, waktu yang paling mengingatkan ku pada mu adalah saat-saat kita berdiri berdua di atas bukit di sebelah utara. Kau ingin melihat bintang jatuh dan bintang rasi lainnya yang baru kau baca di buku-buku di perpustakaan kota tempat kita sempat bersua dari jam-jam sibuk kerja. Lalu kau temukan satu bintang dan memintaku membawanya pulang ke lorong pribadi kita. Aku raih tangan ku dan bisa ku genggam. Bintang itu tampak rapuh dan sedikit lemah. Lalu ku lepas kan lagi dan terbang jauh ke langit bersama kawan sebaya nya. Tetapi kau tidak seding dan menjadi murung. Kau semakin bahagia karena aku mampu merelakannya. Kau sungguh bahagia.


Hanya kenangan-kenangan ini yang mampu aku untai di atas kertas yang sebelumnya putih dan tak berdosa. Hendak ku jadi kan sebuah surat. Dengan merpati. Tapi telah ku abaikan niat ku karena kau terlalu jauh di pulau selatan.


Tetap ku tunggu kau di bibir pintu ini. Karena aku masih asing dengan dunia luar. Hidup ku hanya bersama mu dan lorong hitam yang semakin berjamur dan lepek. Tak berani ku lepas penat ku di sana. Karena suara-suara menggaung misterius. Aku tak sanggup. Aku perlu genggaman tangan mu. Menguat kan ku. Lalu menyempurnakan ku. Seperti bagian jiwa yang hilang, aku sekarang seorang pengecut. Hanya kau yang tahu itu.


Tetap aku berdiri menjaga di bibir pintu bercat merah ini. Menunggu mu kembali dari pulau jauh di selatan. Kau pasti kembali. Meskipun, bahkan, hanya jasad mu yang sampai dengan gerobak hijau dan iring-iringan massa, aku tetap sanggup menunggu mu.


Mari, kita berbahagia di lorong pribadi. Bersama kita Bahagia. Pada Lorong Pribadi kita.


No comments:

Silahkan tinggalkan pesan atau komentar yang membangun untuk penulisan/karya yang lebih baik. Terima kasih.

Powered by Blogger.